Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek (Cerpen). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek (Cerpen). Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2025

Tias Itu Orang Baik

Dalam kebisingan kendaraan yang tiada hentinya berlalu-lalang, Tias hanyut dalam pikirannya, menyisakan sekitarnya kosong dalam ketidakpentingan. Pertanyaan Mister Henri tadi pagi terus mengusik pikirannya. "Seperti apa orang baik itu?" tanya Mister Henri, guru sejarah di sekolahnya. Mister Henri sendiri cukup unik. Di saat guru-guru lain terbuai melakukan joget-jogetan di hari kelulusan siswa, dia mengambil inisiatif untuk merangsang murid-muridnya berpikir.


Tias tidak tahu. Kesal rasanya bagi anak yang selalu mendapat peringkat pertama selama lima tahun terakhir di bangku dasar, tidak sanggup menjawab pertanyaan sederhana seperti itu.


Teman-temannya di sekolah sebenarnya memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Namun, tidak ada satupun yang membuatnya puas. "Orang baik adalah orang yang membelikanku es krim," kata Johan, temannya yang gemuk, dengan mata berbinar. "Ehh.. nggak Johan, orang baik itu seperti papaku," sela Rina, yang sangat sayang dengan ayahnya. Atau si ketua kelas Teddy, dia menjawab, "Menurut saya, orang baik itu selalu berkata jujur, Mister." Mengingat itu, Tias hanya berpikir ada yang salah dari ketiga jawaban itu, yang membuat jawaban-jawaban tersebut masihlah kurang tepat. Dia sendiri tidak tahu, apa bagian yang rumpang itu.


Memecah lamunannya, ibunya datang dengan seember cucian tetangga di antara ketiaknya. "Tias!" panggilnya. "Mau sampai kapan ngelamun terus? Mandi sana lalu ngaji, sudah sore ini!"


Tias yang terkenal pemberani, yang sanggup berkelahi dengan anak SMP sendirian, hanya mampu mengangguk dihadapan ibunya. Bukan karena takut, melainkan patuh dan hormat. Karena ibunya berhasil membesarkan dirinya seorang diri. Sementara ayahnya yang brengsek, entah pergi ke mana setahun setelah kelahiran Tias. "Iya, Bu. Sini Tias bantu bawa cuciannya," tawar dirinya.


Beberapa saat setelah Tias sudah rapi dengan baju muslim dan kopiah hitam di kepalanya, terdengar suara dari luar pagar. "Tias... Ayo berangkat ngaji," Doni memanggil dari luar. Doni adalah sahabatnya sejak kecil. Dia adalah anak pertama yang ia temui sejak kepindahannya di kontrakan yang baru. Mereka sangat akrab dan sering bermain bersama.


"Sebentar, Don, aku pamit dulu," sahut Tias.


Setelah berpamitan pada ibunya yang sedang menggosok baju tetangga, Tias dan Doni berjalan ke masjid untuk mengaji.


Di perjalanan, Doni awalnya membicarakan tentang Timnas Indonesia yang berhasil masuk piala dunia.


"Kamu lihat nggak tendangannya Egy semalam? Buset, kenceng banget! Kalau aku yang nepis pasti tanganku sakit," kata Doni, bersemangat.


Namun, setelah berbicara singkat, Tias mengganti topiknya.


"Don, menurut kamu orang baik itu seperti apa sih?" tanya Tias penasaran, berharap sahabat karibnya itu tahu jawabannya.


Setelah berpikir selama beberapa detik, Doni pun menjawab dengan cengiran, "Hmm... Aku nggak tahu, yang pasti orang baik sih nggak pelit kalau temannya minta bagi bekal."


Wajah Tias tiba-tiba cemberut, lalu berkata, "Bukannya aku nggak mau bagi. Masalahnya ibu aku cuma bawain nasi sama telur doang. Kalau aku bagi kamu, yang ada aku kelaparan sampai siang. Aku kan nggak punya uang saku."


Terkesan meledek, Doni hanya berkata, "Iya-iya... Yaudah nanti kamu tanya aja pertanyaan kamu sama Ustad Adi, mungkin Ustad Adi tahu jawabannya." Tias mengangguk setuju.


Sesampainya di masjid, Tias dan Doni hanya melihat meja yang belum ditata, tidak ada Ustad Adi di sana. "Gimana sih Ustad Adi, katanya menghargai waktu sama dengan bersyukur kepada Tuhan. Tapi dia sendiri malah terlambat," gumam Doni, kesal. "Sudah sabar saja. Sebentar lagi juga datang. Makan dulu kali, atau paling sandalnya diberakin ayam," kata Tias berusaha menenangkan Doni.


Beberapa menit kemudian, datang Ustad Adi yang mengenakan sarung bermotif MU kebanggaannya dengan motor bebek yang biasa dia gunakan.


"Lama banget sih, Tad. Katanya kita harus disiplin, eh Ustad malah telat," keluh Doni yang sejak tadi sudah menahan untuk mengucapkannya.


"Maaf, Don, sendal saya diberakin ayam tadi, jadi harus dibersihin dulu, berkerak soalnya," jawab Ustad Adi.


Keduanya pun terkejut. "Cenayang kamu, Yas," ucap Doni tampak syok karena dugaan Tias terbukti benar. Tias menyeringai dan berkata, "Kan. Apa aku bilang."


Ustad Adi yang tidak paham apa yang sedang terjadi, kemudian meminta mereka berdua menata meja yang ada di sudut ruangan.


Mereka pun mulai mengaji.


Sama seperti sebelumnya, Tias dipuji karena sudah lancar membaca Al-Quran.


Dan masih sama seperti sebelumnya, Doni kena omel Ustad karena masih belum tamat Iqro 2.


"Ya ampun Don, Don. Sudah enam bulan naik Iqro 2 belum lancar-lancar juga. Contoh tuh Tias, masih SD tapi sudah lancar Quran," ucap Ustad Adi.


Tanpa merasa malu, Doni hanya tertawa dan berkata, "Hehehe... Ya maaf, Tad, Doni masih mau lama-lama di Iqro 2 soalnya."


"Alasan saja kamu," kata Ustad Adi.


Setelah membaca doa, dan hendak untuk pulang, Tias menyadari inilah waktu yang tepat untuk bertanya hal yang sejak pagi mengusiknya.


"Ustad Adi, orang baik itu bagaimana sih?" tanya Tias.


Dilempari pertanyaan seperti itu oleh anak SD, sontak membuat Ustad Adi bingung bagaimana menjawabnya.


"Kok tiba-tiba tanya begitu?" kata Ustad Adi yang bukannya menjawab, malah bertanya balik.


"Soalnya tadi Mister Henri tanya di sekolah. Tias nggak tahu jawabannya."


"Mister Henri? Pesulap mana itu? Ustad tahunya Deddy Corbuzier doang."


"Ih, Tad, Mister Henri itu guru sekolahnya Tias, guru sejarah kan ya, Yas?" kata Doni membantu Tias.


"Iya, Ustad, Mister Henri guru sejarah Tias. Jadi bagaimana, Ustad? Kok malah balik tanya sih!" ucap Tias yang sudah tidak sabar.


"Iya-iya. Kalau menurut Ustad, orang baik itu adalah orang yang taat kepada Tuhannya. Tanpa syarat!" katanya menjelaskan.


"Meskipun Tuhannya suruh membunuh orang lain?" tanya Tias, ragu terhadap pernyataan Ustad Adi.


"Nggak mungkin Tuhan suruh itu, Tias. Tuhan maha baik," kata Ustad Adi menjelaskan lagi.


"Lalu orang yang ngelakuin bom bunuh diri atas nama Tuhan itu bagaimana, Ustad? Tuhan mana yang suruh dia ngelakuin itu?" tanya Tias kembali penasaran. Memang, anak kecil penuh dengan pertanyaan. Rasanya akan makan banyak waktu jika harus menuntaskan seluruh isi kepala mereka.


Wajah Ustad Adi sedikit berubah, ada gurat kebingungan atau mungkin kekesalan tipis karena pertanyaan Tias yang kelewat kritis untuk anak seusianya. Ia berdeham, mencoba mencari celah untuk menghindar. "Udah, kamu jangan tanya begitu, Tias, nggak baik bawa-bawa nama Tuhan. Sudah malam juga, lebih baik kalian pulang, takut mama kalian cariin," katanya, suaranya terdengar sedikit lebih cepat dari biasanya.


Sebenarnya Tias masih belum puas dengan jawaban yang dia terima. Sementara Doni senang karena bisa pulang dengan cepat. "Asik, makasih, Tad. Yuk, Yas. Assalamu'alaikum, Tad," katanya sambil buru-buru menarik tangan Tias dan keluar dari masjid. "Wa'alaikumussalam. Hati-hati nanti kesandung!" balas Ustad Adi.


"Kamu ngapain sih buru-buru banget?" tanya Tias yang tidak terima 'dipaksa' pulang oleh temannya. "Aku haus soalnya. Ke warkop Bang Aji dulu ya," jawab Doni lagi-lagi tidak merasa bersalah. Tias mau tidak mau ikut menemani Doni jajan di warkop Bang Aji.


Mereka pun melangkah menyusuri gang yang mulai sepi menuju warkop Bang Aji. Lampu-lampu remang menerangi jalan, dan dari kejauhan, Tias sudah bisa mencium aroma kopi dan mi instan yang khas dari warkop.


"Bang Aji, Nutrisari duren satu ya!" kata Doni sambil duduk di dekat etalase warkop. "Kamu mau apa, Yas? Aku yang bayarin deh, ibuku ngasih duit lebih nih."


"Aku yang rasa duku deh."


"Nutrisari dukunya juga satu ya, Bang. Di gelas aja."


Bang Aji yang sedang menata gelas menjawab, "Siap, Don!"


Di warkop Bang Aji tersedia mi instan, minuman seduh, dan kacang hijau tentu saja lengkap dengan ketan hitamnya. Di sudut kiri atas, dekat kipas angin, terdapat TV tabung yang menyala. Saat itu terdapat talkshow seorang figur bernama Sujiwo Tejo yang ditanyai pertanyaan-pertanyaan dari para penonton. Pembawa acara bilang begini, "Mbah, menurut Mbah orang baik itu yang seperti apa, Mbah?"


Mendengar pertanyaan yang belum Tias temui jawabannya keluar dari mulut pembawa acara itu, Tias mendadak tertarik, terpaku pada layar TV yang menyala.


"Begini, coba sebutkan hal baik apa saja yang kamu lakukan hari ini!" ucap Sujiwo Tejo kepada pembawa acara itu.


"Mengantar anak-anak sekolah..." jawab si pembawa acara.


"Bukan... Itu bukan kebaikan... Itu kewajiban. Ayo, apa lagi?" tanya Sujiwo Tejo kembali.


Pembawa acara itu ragu. Setelah berpikir sebentar dia menjawab, "Mungkin, menjemput istri bekerja?"


"Bukan juga... Sekali lagi itu kewajiban. Apa kamu tidak terpikirkan hal lain lagi?"


Pembawa acara itu menggeleng, malu karena tidak berhasil menyebutkan satupun kebaikan yang ia lakukan di hari itu.


"Kalau kamu tidak bisa menjawabnya, maka kamu orang baik," ucap Sujiwo Tejo yang membuat pembawa acara itu semangat kembali.


"Maksudnya bagaimana, Mbah?" tanyanya penasaran.


"Iya... Kamu orang baik, karena kamu melupakan hal baik yang kamu lakukan. Orang baik adalah orang yang tidak ingat dia pernah melakukan kebaikan sebesar apapun kebaikan itu, tapi menyesal sejadi-jadinya jika melakukan kesalahan sekecil apapun kesalahan itu."


Mata Tias menjadi berbinar. Dia sebenarnya tidak begitu mengerti apa maksud dari kalimat itu. Tapi dia rasa itu jawaban yang selama ini dia cari.


"Jadi, orang baik seperti itu ya..." ucap Tias dalam hati.


Bang Aji yang sudah selesai menyeduh minuman mereka, datang dengan dua buah gelas di atas nampan.


"Makasih ya, Bang," ucap Doni.


Setelah beberapa kali menyeruput minuman rasa duku itu, Tias penasaran dengan pendapat Bang Aji.


"Bang Aji," panggil Tias.


"Apa?" kata Bang Aji yang sedang mengelap piring.


"Menurut Bang Aji gimana sama itu," menunjuk TV yang ada di atas.


"Ya... TV-nya udah tua sih, nanti mau Bang Aji ganti," katanya, salah paham dengan maksud Tias.


"Bukan itu, Bang. Tadi orang di situ bilang orang baik adalah orang yang tidak ingat dia pernah melakukan kebaikan sebesar apapun kebaikan itu, tapi menyesal sejadi-jadinya jika melakukan kesalahan sekecil apapun kesalahan itu. Menurut Abang benar nggak?"


Sambil mengusap-usap dagunya yang tidak ada jenggot, Bang Aji berkata, "Abang nggak setuju. Orang yang menyesal sama kesalahannya sendiri cuma orang yang menyangkal kalau dirinya manusia."


"Maksudnya, Bang?"


"Eh maaf, bahasa Abang ketinggian ya. Maksud Abang, orang yang menyesal sama kesalahannya sendiri itu nggak tahu kalau manusia memang pasti buat salah."


Tias masih belum paham, tapi dia mengangguk-angguk dengan penjelasan Bang Aji.


"Jadi menurut Abang orang baik itu bagaimana, Bang?" tanya Tias sekali lagi mengharapkan kepastian.


"Abang nggak tahu. Mungkin sebenarnya nggak ada?" balas Bang Aji yang membuat Tias semakin tidak paham. "Tapi Abang pernah dengar ada orang bijak yang bilang, 'Jangan mendebati orang baik itu seperti apa, tapi jadilah orang baik.' Jadi kamu nggak perlu tahu orang baik itu seperti apa untuk jadi orang baik. Yang penting, kita jadi orang baik."


Percakapan orang baik ini dan orang baik itu membuat isi kepala Tias mengebul. Sementara Doni yang asik dengan Nutrisari durennya seakan hidup terpisah dari dunia Tias dan Bang Aji.


"Kamu paham nggak, Don, Bang Aji ngomong apa? Aku nggak paham." tanya Tias.


"Hah? Memang kalian ngomongin apa?" jawab Doni dengan polosnya.


Tias dan Bang Aji menepuk jidat mereka seolah berkata dalam hati, "Ya ampun Don, Don."


"Gini deh kalau Tias masih belum paham. Coba pikirin satu orang yang menurut Tias itu orang baik," kata Bang Aji.


Tiba-tiba, wajah ibunya yang sedang menggosok baju di rumah memenuhi benak Tias. Aroma sabun cuci dan uap setrika seolah tercium, membawa kenangan hangat. Wanita yang rela membelikan Tias baju motif Ultraman kesukaannya, tapi masih memakai daster yang robek di dekat lutut, daster lusuh yang menjadi saksi perjuangan ibunya. Wanita yang rela siang-malam, sehat ataupun sakit, mengusahakan kebahagiaan Tias. Perasaan hangat menjalar di dadanya, diikuti perih yang tak bisa ia jelaskan. Perlahan, tetesan air mata mengalir dari mata sayunya, membasahi kain baju muslim di pipinya.


"Tias pasti ngebayangin Bu Santi ya," kata Bang Aji, seolah dapat membaca pikiran Tias.


Tias mengangguk. Masih menangis dalam diam.


"Itu tandanya, Tias juga orang baik, karena Tias sayang sama Ibu Tias."


Masih terisak, Tias berusaha bersuara, "Meskipun Tias nggak mau bagi bekal sama Doni, Tias tetap orang baik, Bang?"


Bang Aji diam sebentar. Sebenarnya dia tidak begitu mengerti situasinya. Tapi akhirnya dia bilang, "Iya, Tias tetap orang baik. Tias pasti punya alasan untuk itu kan?"


Sekali lagi Tias mengangguk tak bersuara.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Bang Aji meminta Doni dan Tias pulang ke rumah.


Mereka pun berjalan bersama menyusuri kampung yang sudah mulai tertidur. Di pertengahan jalan, di dekat pondok siskamling, mereka berdua berpisah. "Aku lewat sini saja ya, lebih cepat soalnya," kata Doni. "Yaudah, hati-hati nanti diculik."


Sebelum berpisah mereka berdua melakukan tos ala mereka sendiri. Diawali pertemuan tangan mereka yang saling beradu, dan diakhiri pinggul mereka yang saling mendorong satu sama lain.


Tias sudah berada di depan pagar rumahnya. Perlahan dia melewatinya dengan hati-hati, khawatir mengganggu tetangga.


"Assalamu'alaikum, Bu. Tias pulang," ucapnya berharap balasan. Namun, tidak ada sahutan yang terdengar. Tias pun melepas sendal swallow hijau dari kakinya dan memasuki rumah.


Tias melihat sekitar, tidak ada siapa-siapa. Semuanya tampak tenang. Hanya ada tumpukan baju yang sudah rapi tapi belum dikemas.


Dia melihat salah satu pintu di rumah itu terbuka. Pintu itu adalah pintu menuju kamar ibunya. Tias pun mendekatinya perlahan, sampai kepalanya melewati pintu tersebut.


"Bu, Tias pulang," katanya sedikit berbisik.


Di ruangan itu, terlihat wanita dewasa sedang berbaring di atas ranjang berwarna merah muda. Terbaring sunyi, hanya mengeluarkan napas yang teratur.


Tias mendekati ibunya. Dilihat wajahnya yang bersandar di atas bantal. Tampak kulit yang tidak pernah dirawat sebelumnya. Berwarna cokelat, dan ada tahi lalat di lehernya. Tias melihat ibunya tampak lelah, jadi tidak ingin membangunkannya.


Tias pun berjalan keluar, meninggalkan ibunya yang sedang tertidur pulas. Sebelum keluar, dengan suara yang sangat pelan, Tias berkata, "Tias sayang Ibu."


Hari pun telah berganti. Matahari kembali bersinar. Dan masih sama seperti hari sebelumnya, Mister Henri kembali bertanya kali ini spesifik kepada Tias, "Tias, menurut kamu orang baik itu seperti apa?"


Tias diam sejenak. Tampak gugup karena satu kelas memandang dirinya saat itu. Perlahan dia memberanikan diri membuka mulutnya. Sambil tersenyum dirinya berkata, "Mungkin, seperti ibu saya."

Senin, 30 Juni 2025

Satu Hari, Seribu Kali

Setiap orang pasti memiliki ketakutan. Seperti temanku Abdul yang biasa kupanggil 'Panjul', dia takut dengan guru matematika kami, Bu Desi namanya. Atau Bondan si tampan, langsung kabur jika ada di antara kami yang memainkan serangga. Termasuk aku, aku juga punya ketakutan: aku takut dengan perempuan.

Memang aneh sih, mana ada laki-laki yang takut dengan perempuan. Tapi aku pengecualiannya. Saking takutnya dengan perempuan, aku akan mual jika di dekat mereka. Makanya ayahku menyekolahkanku di SMA khusus laki-laki, Sekolah Arya Pratama namanya.

Sejak ayahku berpisah dengan ibuku saat aku berumur enam tahun, aku tidak pernah lagi berinteraksi secara sengaja dengan perempuan, kecuali dengan Bu Guru sekolahku atau kasir Indomaret dekat rumahku.

"Eh Ray," panggil Panjul kepadaku. "Lu mau sampe kapan begini terus? Emang lu ga mikir pas lu kerja nanti bisa aja bos lu perempuan atau klien lu perempuan? Ayolah bro, ga semua orang di bumi ini laki-laki," ujar Panjul sok bijak, menyebalkan memang.

"Tau tuh Rayyan. Lu emang ga mau nikah apa?" tambah Bondan. "Bayangin aja pas malam pertama, 'sayang aku cinta kamu, hueekkk'," katanya meledekku. Memang si Bondan ini, selain tampan, mungkin mesum adalah ciri khasnya. Pernah kami ke Solaria saat pergi bersama, dia bilang, "Pelayannya cantik ya." Padahal pelayan tersebut kemungkinan berusia sama dengan ibunya.

"Nanti juga gua terbiasa. Udahlah, lu berdua mau sampe kapan ngejek gua terus!" aku menjawab kesal. Bagaimana tidak kesal! Hampir setiap hari saat kami makan siang di kantin sekolah, mereka selalu membahas topik yang sama.

"Kenapa ga coba sewa pacar aja sehari? Siapa tau jadi demen kan," sahut Bondan.

"Iya tuh Ray. Banyak yang gunain jasa itu akhir-akhir ini. Nanti gua yang bayarin dah," balas Panjul.

"Enggak ah," aku menjawab begitu sebelumnya. Sampai ada perempuan cantik berdiri di depanku saat ini.

"Halo, kamu pasti Rayyan ya? Aku Luna, salam kenal ya," ucapnya sambil mencoba berjabat tangan denganku.

Luna ini memang aneh. Tentu saja bukan dalam maksud yang negatif. Hanya saja, aku tidak merasa mual saat di dekatnya. Sampai aku berpikir, 'Apa betul dia perempuan? Bukan lelaki hode yang mencoba mencari uang tambahan dari menjadi pacar sewaan, kan?'

"Halo Luna. Tapi kamu beneran perempuan?" tanyaku spontan. Bodohnya aku, aku membiarkan mulutku mengeluarkan isi pikiranku.

Luna hanya tertawa tipis, dia tidak tersinggung. "Kamu aneh ya. Tentu aja aku perempuan. Ga mungkin aku buktikan ke kamu juga kan?" godanya.

Tentu saja aku menolaknya. Aku bukan lelaki bajingan yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan.

Aku pun menceritakan kondisiku kepadanya. Dan sekali lagi, dia tertawa. Bagaimana mungkin cewek yang blak-blakan seperti dirinya menjadi pacar sewaan? Bukankah orang-orang yang menyewanya akan ilfeel duluan?

"Maaf ya maaf. Tapi kamu beneran aneh banget deh," katanya.

"Kamu baru jadi pacar sewaan ya?" tanyaku, lagi-lagi spontan. Oke, mulai sekarang aku benci mulut sampah ini yang tidak tahu kondisi. Lagi-lagi aku mengeluarkan isi pikiranku tanpa mengolahnya lebih dulu.

"EH! Kok kamu tahu?" jawabnya. Benar kan. Bagaimana mungkin orang blak-blakan sepertinya akan laku di industri ini.

"Insting dari cowok yang ga pernah interaksi sama cewek aja. Lumayan kuat loh!" jawabku.

Setelah kami berkenalan dan berbicara singkat, kami memulai kencan dua orang aneh ini. Mula-mula kami pergi ke Sea World. Orang-orang bilang 'Aquarium Date' sedang tren saat ini. Karena aku tidak punya pengalaman kencan, aku pun mencobanya.

Mata Luna berbinar saat dia melihat satu jenis ikan dan berpindah ke ikan yang lain. Senyumannya yang sangat lebar dan puas itu benar-benar menenangkan hati. Aku membayangkan saat ini Luna seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah natal dari ayah mereka. Begitu terpesona dan bahagia. Rambut panjang berwarna cokelat dan riasan yang tidak berlebihan benar-benar pas dikenakannya. Pakaiannya yang sederhana, seperti gadis desa yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota besar, justru memancarkan aura lembut di tengah keramaian. 'Aku ngomong apa sih. Inget Ray, dia ini cuma pacar sewaan!' ujarku dalam hati.

Kami pun berkeliling melihat aneka ragam ikan yang menari-nari di dalam air. Sekarang mungkin aku paham mengapa 'Aquarium Date' ini sangat tren. Benar-benar menenangkan. Kujauhkan pikiran 'Karena bersama Luna' dari benakku.

Kami berkeliling sampai jam empat sore. Kami berbincang-bincang layaknya 'pacar sungguhan' dan kini kami sudah lelah. Kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu, sebelum menjelang malam nanti, kami mengakhiri kencan kami dengan menonton bioskop. Aku tahu tidak seharusnya orang-orang yang pacaran menonton bioskop pada kencan pertama mereka. Tapi yang mengusulkan ide ini bukan aku, melainkan Luna sendiri. Katanya dia ingin menonton film terbaru yang judulnya, 'Wah-Wah, Kaget!' kalau ga salah. Dia bilang itu mungkin seru karena sekuel dari film terkenal berjudul 'Kaget-kaget, Wah!' Aku pun menurutinya.

Kami mengambil tempat duduk paling pojok, salah satu tempat duduk dengan kursi empuk di restoran Ramen Yak.

"Permisi mbak," ucapku.

"Hai. Ada yang bisa dibantu?" tanya mbak-mbak pelayan Ramen Yak tersebut.

Bersama Luna seharian membuatku hampir lupa, bahwa aku memiliki kondisi tertentu menghadapi perempuan. Rasa mual yang sebelumnya tidak kurasakan saat bersama Luna, kembali datang kepadaku.

"Maaf mbak, saya mau ke kamar mandi dulu," bilangku dan segera berdiri dari kursi. "Aku pesen yang sama kaya kamu aja ya, Lun," kataku.

Aku tidak begitu dengar apa yang sebenarnya Luna dan pelayan itu katakan. Kalau aku tidak salah dengar, dia mengatakan, "Maaf ya mbak, pacar saya emang aneh soalnya."

Aku pun segera menuntaskan urusanku di toilet dan segera kembali padanya.

"Maaf ya, tiba-tiba mualku kambuh," ujarku dengan tulus.

"Gapapa kok, 'sayang'," jawabnya sambil menyeringai.

Aku pun menatapnya aneh. Dia tidak pernah mengatakan itu di Sea World sebelumnya. Kupikir dia hanya ingin menggodaku.

Tidak lama kemudian pesanan kami datang. Kami berdua memesan Miso Spicy Ramen King Size dengan ocha sebagai minumannya.

"Pelayanannya cepat juga ya," kataku basa-basi.

"Iya nih, hampir nyaingin aku," balasnya kembali menyeringai.

Aku tidak begitu mengerti apa maksudnya. Kupikir dia hanya ingin menggodaku kembali.

Kami pun menyantap ramen yang telah dihidangkan sambil bercengkerama.

"Luna," ucapku. "Kok kamu mau jadi pacar sewaan?"

Luna menghentikan makannya. Wajahnya menjadi lebih serius. "Ibuku sakit, Ray. Aku harus cari uang sampingan untuk dia berobat," jawabnya.

Hatiku terasa tercabik-cabik. Membayangkan perempuan seceria dirinya tiba-tiba memasang wajah sedih benar-benar menyentuh hatiku.

Kemudian aku mendengar suara, "Cekrek!" dari ponsel yang dia bawa.

"Becanda dehh.. Kamu ini gampang banget dibohongin sih, Ray," katanya sambil kemudian tertawa terbahak-bahak. "Liat nih wajahmu yang murung. Lucu banget tau!"

Sial. Aku mendengus kesal. Ternyata aku ditipu. 'Kembalikan rasa simpatiku sebelumnya!' gerutuku dalam hati.

"Ibuku sehat kok di rumah. Aku cuma mau tau aja rasanya punya pacar gimana. Terus teman-temanku nawarin ini. Aku coba aja sekali. Jadi, bisa dibilang kamu yang pertama untukku," katanya sambil menampilkan wajah menahan tawa.

Entah kenapa aku menjadi tenang dan bersyukur. Entah karena ibunya yang tidak benar-benar sakit atau karena akulah yang pertama untuknya.

"Abis ini mau langsung ke bioskop?" tanyaku kepadanya yang baru saja menghabiskan ramen.

Dengan wajah yang masih 'celemotan' kuah ramen, dia menjawab, "Hmm.. kita ke supermarket dulu deh. Pacar kan biasanya belanja bareng."

Aku tahu ini kesempatanku membalas godaannya tadi, jadi kubilang, "Yaudah, kamu emang mau beli apa, sayang?" Kena kau. Sekarang kau pasti merasa kesal dan berpikir, 'Kok dia ga kegoda sih?' atau semacamnya.

Namun aku salah. Wajahnya menjadi tersipu. Mana godaan yang tadi woi?! Napa sekarang jadi serius?

"Eh maaf, aku becanda aja tadi. Ga bermaksud manggil sayang beneran kok," kataku dengan tulus.

Kemudian dia tersenyum dan berkata, "Aku tau kok. Gapapa juga sih, kan kita emang pacaran."

Kemudian kami berdiri meninggalkan Ramen Yak. "Arigatougozaimashita," kata salah satu pelayan. Kalau aku ga salah artinya terima kasih, lalu kubalas, "You're welcome." Karena aku tidak tahu bahasa Jepang-nya, kujawab saja pakai bahasa Inggris. Anehnya wajah mbak-mbak tersebut mendadak bingung. Apa dia tidak mengetahui artinya? 'Artinya sama-sama woi, mbak! Belajar bahasa Inggris makanya!' ucapku dalam hati. Seperti karma yang datang tiba-tiba, aku mendadak mual. Aku lupa, mbak-mbak itu perempuan.

Sampailah kami di supermarket di lantai dua. Beruntungnya aku. Tidak banyak pengunjung perempuan di sana.

"Kamu mau beli apa emang?" tanyaku padanya.

"Urusan cewek, ada deh," ucapnya. Aku mendengus, tahu dia sengaja membuatku penasaran, tapi anehnya, sudut bibirku justru terangkat sedikit. Dia memang menyebalkan, tapi entah mengapa, aku tidak membencinya.

"Yaudah aku ke rak roti aja ya, aku mau bawa sesuatu untuk ayahku," balasku.

Baru sekejap aku membalikkan badan, tiba-tiba lengannya yang putih dan mulus dengan gelang rajutan yang bertengger di sana menahanku. "Jangan!" katanya. "Bareng-bareng aja. Kalau misah namanya bukan date lagi dong!" Masuk akal juga, aku pun mengiyakannya tanpa banyak berpikir.

Akhirnya kami berjalan bersama. Dan ternyata dia ingin membeli pembalut. Pantas saja dia bilang itu urusan cewek. Dengan hal ini aku tidak ragu lagi bahwa dia adalah perempuan.

Dia membeli pembalut berukuran besar yang sedang diskon 20% saat itu. "Lumayan, bisa untuk sebulan," katanya. Aku tidak begitu mengerti masalah cewek. Kupikir memang begitu.

Setelah selesai mengambil pembalut, kami menuju rak roti untuk membeli roti yang kuinginkan. Sayangnya aku tidak menemukan roti rasa kacang tanah dan lidah buaya kesukaan ayahku. Aku kecewa. Tapi dia menyarankanku untuk membeli roti yang lain. "Beli yang rasa ati sapi aja, ayahku suka yang ini soalnya. Mungkin enak." sarannya. Sebenarnya aku tidak yakin. 'Emangnya ati sapi di roti enak ya?' tanyaku dalam hati. Ayahku juga aneh sih. Masa mau beli roti rasa kacang tanah dan lidah buaya. Apa semua bapak-bapak emang aneh ya? Kurasa tidak ada pilihan lain. Aku pun membeli roti itu atas rekomendasinya.

Kami berdua sudah mengambil barang yang kami mau, kemudian berjalan menuju kasir bersama. Karena kupikir dia telah menemaniku seharian ini tanpa mengeluh, aku ingin membalasnya, jadi kubilang, "Udah, aku aja yang bayar ya." Dia berterima kasih padaku dan menyesal kenapa dia hanya membeli pembalut tadi. Dasar. Tapi di saat itu, dia tetap lucu, ehem.

Setelah selesai membayar, kami keluar dari supermarket. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat tujuh sore. Delapan menit lagi bioskopnya dimulai. Luna yang sangat excited dengan film tersebut buru-buru menarik tanganku untuk bergegas ke sana. Itu wajar sih. Karena bioskop ada di lantai lima, membutuhkan waktu sepuluh menit jika kami berjalan, tentu akan terlambat.

Kami pun berlarian menyusuri lorong untuk sampai ke bioskop. Aku tidak tau apa yang dipikirkan orang-orang yang melihat kami. Tapi ada salah satu karyawan Matahari yang bilang, "Ciee.. mau dibawa ke mana pacarnya tuh, Neng?" Aku tidak mengerti. Kenapa banyak orang menyebalkan hari ini? Aku ingin membalas tapi tidak sempat karena Luna yang membalasnya duluan, "Mau ke bioskop bang, takut telat nih!" "Mantap dah!" kata mas-mas itu.

Kami pun sampai di pintu bioskop pukul 6.14. Masih tersisa satu menit sebelum filmnya dimulai. Kami segera mencari teater nomor sebelas yang menjadi tempat kami menonton. "Disana, Lun," kataku menemukannya.

Luna dan aku segera berlari menuju mbak-mbak pemeriksa tiket. "Untuk dua orang ya, kursi H nomor 20 dan 21. Selamat menikmati!" kata mbak-mbak tersebut. Aku menahan mualku saat di depannya dan buru-buru masuk supaya tidak lama berdekatan dengannya. "Makasih, mbak," sahut Luna.

Kami segera menuju kursi kami, kursi H nomor 20 dan 21. Luna duduk di kursi nomor 20 dan aku dapat sisanya, nomor 21. Luna memilih kursi ini karena ini merupakan kursi yang pas menurutnya. Dia bilang, "Biar ga terlalu bawah atau atas banget. Jadi liatnya bisa lurus, ga terlalu ngedangak." Masuk akal. Pintar juga dia. Dia juga bilang, "Oh iya, karena kamu ga mau deket-deket sama cewek lain, aku pilih kursi ini. Kursi sekitarnya masih kosong soalnya." Dia perhatian juga ternyata. Soalnya aku ga bisa menikmati bioskop jika sepanjang film terus merasa mual. Aku berterima kasih padanya untuk itu. Aku tersenyum tipis, merasa senang.

Dan sesuai dugaan, kursi sekitar kami belum dipesan siapa-siapa. Seakan-akan kami yang memesan kursi-kursi itu supaya dapat berduaan sepanjang film. Tentu hanya permisalan, permisalan!

Sepanjang film aku tidak bisa fokus. Bagaimana aku bisa fokus jika Luna terlalu excited sampai teriak-teriak sendiri. Aku merasa bersalah untuk penonton yang lain. Tapi aku tidak bisa melarangnya, wajahnya memberi kesan bahagia saat itu. Aku merasa bersalah jika mengganggunya. Untung saja tidak ada yang meneriaki kami karena norak.

Saat itu wajahnya bersinar akibat pantulan cahaya bioskop. Sekali lagi aku merasa kalau, dia sangat cantik. Dan lagi-lagi aku berusaha menjauhkan pikiran itu dari benakku. 'Pacar sewaan, Ray, pacar sewaan,' kataku dalam hati.

Kami pun menyelesaikan filmnya pada pukul delapan lewat dua puluh malam. "Seru banget ga sih filmnya?" tanya Luna yang masih saja excited. "Apalagi pas kaki si cowoknya buntung di injek titan." 'Bukannya itu justru tragis ya?' kataku dalam hati. Tapi aku bilang, "Iya, seru kok." Kemudian dia bilang lagi, "Kapan-kapan nonton di sini lagi yuk. EH—" Dia baru menyadari bahwa kesempatan itu hanya muncul jika aku menyewanya sebagai pacar sewaan lagi. Dia mendadak menjadi murung. "Yaudah, nanti kapan-kapan kita ke sini lagi ya," ucapku untuk mengembalikan semangatnya. Dia hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.

Karena sudah cukup malam dan berbahaya untuk perempuan pulang malam-malam, kami berdua pulang bersama menaiki bus TransJakarta koridor lima untuk sampai ke Kampung Melayu. "Kamu beneran gapapa cuma sampe Kampung Melayu? Bahaya loh pulang malem-malem," tanyaku khawatir. "Gapapa kok. Rumahku di Bonpal soalnya. Deket dari situ." "Oh yaudah," kataku lagi.

Kami pun sampai pada pukul sembilan tepat.

Setelah aku memberikan tarif sewa hari ini, Luna berpamitan pulang padaku.

"Makasih ya Ray, aku seneng banget hari ini. Ga nyangka, beneran seru punya pacar." ucapnya padaku. "Kalau begitu sampai nanti, aku pulang dulu ya."

Sesaat setelah dia membalikkan badan, meninggalkanku, aku tidak bisa menghentikan mulutku mengeluarkan isi hati. "Luna," panggilku.

Luna menoleh. Rambut panjangnya yang melesat membelakanginya saat menoleh kepadaku terasa sangat indah.

"Kenapa lagi, Ray?" tanyanya, bingung.

"Em... boleh ga, kita ngepet lagi Minggu depan?" tanyaku gugup. Lagi-lagi bodohnya aku, saking khawatir dia menolaknya aku sampai salah ucap.

"Hahaha.. Boleh kok, kita ngepet lagi!" jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Bukan.." maksudku menjelaskan.

"Aku tau kok Rayyan. Aku mau kok ngedate lagi sama kamu," ucapnya, kali ini bukan dengan seringai menyebalkan, tapi senyuman manis di wajahnya.

Aku pun ikut tersenyum tanpa sadar. Aku senang sekali. Mungkin itu sebabnya jantungku berdebar cepat saat itu, padahal sebelumnya belum pernah, atau sebelum bertemu Luna seingatku.

Aku bisa membayangkan betapa lebarnya senyumanku saat itu. Mas-mas kasir Roti 'O dan mas-mas karyawan TransJakarta, menjadi saksi cintaku malam itu.

Dan begitulah aku mengenal istriku—Luna, pacar sewaan yang tak pernah terasa seperti sewaan. Hari itu, mungkin cuma satu hari biasa bagi orang lain, tapi untukku, itulah hari pertama aku merasa… sembuh.

Sembuh dari takutku, dari lukaku, dari sepi yang tak pernah sempat kusadari selama ini.

Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana jadinya jika aku tak mengiyakan tawaran Panjul dan Bondan waktu itu. Mungkin aku masih tetap Rayyan yang mual tiap kali lihat perempuan. Atau mungkin… aku tidak akan pernah tahu rasanya jatuh cinta pada seseorang yang tak perlu jadi orang lain hanya untuk membuatku nyaman.

Sekarang, setiap kali aku melihat Luna menyisir rambutnya di depan kaca, atau tertawa saat nonton film yang dia suka—ya, termasuk film konyol semacam Wah-Wah, Kaget!, aku selalu teringat hari itu.

Hari di mana semuanya bermula.

Dan jika boleh memilih, aku ingin mengulang hari itu. Sampai seribu kali.

Tias Itu Orang Baik

Dalam kebisingan kendaraan yang tiada hentinya berlalu-lalang, Tias hanyut dalam pikirannya, menyisakan sekitarnya kosong dalam ketidakpenti...